Evaluasi Kemampuan Tenaga Kesehatan

Sebagai tenaga kesehatan, pengetahuan dan ketrampilannya harus terus ditingkatkan. Oleh sebab itu sehabis tenaga kesehatan memperoleh STR (Surat Tanda Registrasi), harus terus berusaha meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya melalui acara pendidikan keprofesian berkelanjutan. Hampir semua organisasi profesi memutuskan bahwa selama 5 tahun, setiap tenaga kesehatan harus menerima 25 SKP (satuan kredit profesi) semoga mampu menerima STR baru melalui proses reregistrasi.

Tahun 2016 yakni tahun pertama diberlakukannya re-registrasi, karena pendaftaran tenaga kesehatan pertama kali dimulai pada tahun 2011. Namun kenyataanya masih banyak tenaga kesehatan yang belum memperoleh 25 SKP, konsekuensinya ialah harus menempuh evaluasi kemampuan untuk melengkapi syarat jumlah SKP tersebut.

Untuk memenuhi kebutuhan ini, MTKI (Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia) bekerja sama dengan Pusat Peningkatan Mutu SDM Kesehatan Kemkes dan seluruh organisasi profesi kesehatan, telah berbagi software evaluasi kemampuan, yang lalu dilakukan uji coba ke 5 provinsi adalah DKI Jakarta (18 Nopember), Sumatera Utara (19 Nopember), Jawa Tengah (22 Nopember), Jawa Timur (25 Nopember) dan Sulawesi Selatan (26 Nopember 2016). Sistem yang digunakan yaitu computer based test (CBT) yang menyimpan paket soal yang terdiri dari 100 soal untuk masing-masing organisasi profesi. Peralatan yang dibutuhkan ialah laptop sebagai server dan router untuk koneksi server ke laptop peserta penilaian kemampuan. Waktu yng disediakan yaitu 90 menit untuk 100 soal tersebut.

ujian evaluasi tenaga kesehatan

Tampak akseptor dengan penuh konsentrasi mengerjakan soal2 penilaian kemampuan menggunakan CBT (computer based test)

Sebanyak 10 organisasi profesi ikut serta dalam uji coba evaluasi kemampuan ini, ialah IFI (Ikatan Fisioterapis Indonesia), PTGI (Persatuan Teknisi Gigi Indonesia), PATELKI (Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan Indonesia), IKATEMI (Ikatan Elektro Medis Indonesia), PERSAGI (Persatuan Ahli Gizi Indonesia), HAKLI (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia), PORMIKI (Perhimpunan Profesional Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia), PARI (Persatuan Ahli Radiologi Indonesia), IROPIN (Ikatan Refraksionis dan Optisien Indonesia) dan PPGI (Persatuan Perawat Gigi Indonesia).